Pages

Search In

Hasil penelusuran

Tampilkan postingan dengan label Cerita Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Islami. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Juli 2013

Kaum Nabi Luth dan Kota yang Dijungkirbalikkan

0 komentar
http://static.republika.co.id/uploads/images/detailnews/babedhdhra_lokasi_ditemukannya_reruntuhan_kota_sodom_dan_gomoroh_100815214446.jpgKaum Luth pun telah mendustakan ancaman-ancaman ( Nabinya ). Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka ), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan di waktu seelum fajar menyingsing. Sebagai ni’mat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. Dan sesungguhnya dia ( Luth ) telah memperingatkan mereka akan azab-azab Kami, maka mereka mendustakan ancamanancaman itu. (QS Al Qamar 33 – 36 ).
Nabi Luth hidup satu masa dengan Ibrahim. Luth diutus sebagai seorang pembawa risalah kepada salah satu kelompok masyarakat yang hidup berdekatan dengan kaum Nabi Ibrahim. Kaum ini, sebagaimana diriwayatkan dalam Al Qur’an mengerjakan perbuatan yang menyimpang yang kemudian dikenal luas sebagai perilaku sodomi. Dikala Luth menyerukan kepada mereka untuk menghentikan penyimpangan tersebut diserukan kepada mereka peringatan dari Allah, maka mereka mengingkarinya, menolak kenabian Lut dan meneruskan penyimpangan perilaku mereka. Pada akhirnya kaum ini dihancurkan/diluluhlantakkan dengan bencana yang mengerikan.

Kota dimana dahulu Nabi Luth berdiam, dalam Perjanjian Lama dihubungkan dengan kota Sodom, Berada disebelah Utara laut Merah, masyarakat ini diketahui telah dihancurkan sebagaimana termaktub dalam Al Qur’an. Penelitian arkeologis mengungkapkan bahwa kota tersebut berada diwilayah Laut Mati yang terbentang memanjang diantara perbatasan Israel-Jordania.

Sebelum mencermati sisa-sisa dari bencana ini, marilah kita lihat mengapa kaum Luth dihukum dengan cara seperti ini. Al Qur’an menceritakan bagaimana Luth memperingatkan kaumnya dan apa jawab mereka :

Kaum Luth telah mendustakan rasul-nya, ketika saudara mereka Luth, berkata kepada mereka “ Mengapa kamu tidak bertaqwa?”. Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan ( yang diutus ) kepadamu, maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki diantara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas. Mereka menjawab “ Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang yang diusir”. Luth berkata “ Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu “. ( QS Asy-Syu”ara” 160-168 ).

Kaum Nabi Lut justeru mengancamnya sebagai jawaban atas ajakannya ke jalan yang benar. Kaumnya membenci Luth karena menunjukkan mereka ke jalan yang benar, dan membuang/menyingkirkkannya dan orang-orang yang beriman kepadanya. Dalam ayat lain, kejadian ini dikisahkan sebagai berikut :

Dan ( Kami juga telah mengutus ) Luth ( kepada kaumnya ). (Ingatlah ) tatkala dia berkata kepada mereka :” Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (didunia ini) sebelummu?”.

Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melampiaskan nafsumu ( kepada mereka), bukanka kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan :” Usirlah merkea ( Lut dan pengikutpengikutnya) dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpurapura mensucikan diri .” (QS Al A’raaf 80-82).


Luth menyeru kaumnya kepada sebuah kebenaran yang begitu nyara dan memperingatkan mereka dengan tegas, namun kaumnya sama sekali tidak mengindahkan berbagai peringatan dan bahkan meneruskan penolakannya terhadap Luth dan mengingkari azab yang telah dikatakan kepada mereka :

 Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya :Sesungguhnnyya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang sebelumnya belum pernah dikerjaka oleh seorangpun dari umat-umat seblum kamu”. Apakah sesungguhnya kamu mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran ditempat-tempat pertemuannmu? Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan : “ Datangkanlah kepada kami azab Allh, jika kamu termasuk orang-oranng yang benar”. ( QS Al Ankabut 28-29).

Menerima jawaban seperti tersebut diatas dari kaumnya Luth meminta pertolongan kepada Allah : “ Ia berkata : Ya Tuhanku, tolonglah aku ( dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu “ (QS Al-Ankabut 30)“. “ Ya Tuhanku selamatkanlah aku beserta keluargaku dari ( akibat) perbuatan yang mereka kerjakan” ( QS Asy Syu’ara’).


Atas doa Luth tersebut, Allah mengrimkan dua malaikat yang menjelma dalam wujud manusia. Para malaikat ini mengunjungi Ibrahim sebelum mendatangi Luth, membawa kabar gembira kepada Ibrahim bahwa isterinya akan melahirkan seorang jabang bayi, malaikat pembawa pesan menerangkan alasan pengiriman mereka; bahwa kaum Luth yang angkara akan dihancurkan :

“Ibrahim bertanya; ‘Apakah urusanmu hai para utusan?’. Mereka menjawab;”Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereja batu-batu dari tanah yang (batu belerang), yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk ( membinasakan ) orang-orang yang melampaui batas. ( QS Adz -Dzaariyaat: 31-34).

“Kecuali Lut beserta pengikut-pengikutnya. Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan mereka semuanyua, kecuali istrinya, Kami telah telah menentukan bahwa sesungguhnya ia itu termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya )”. ( QS Al Hijr 59-60).


Setelah meningalkan Ibrahim, para malaikat yang dikirim sebagai utusan pembawa pesan, kemudian mendatangi Luth. Adapun Luth yang belum pernah ditemui sang pembawa pesan, pada waktu pertama kalinya merasa khawatir namun selanjutnya merasa tenang setelah berbicara dengan mereka ;

Ia berkata:” Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal”. Para utusan menjawab :” Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan “. Dan kami datang kepadamu membawa kebenaran dan sesungguhnya kami betul-betul orang yang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorangpun di antara kamu menoleh kebelakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu”. Dan Kami telah wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis diwaktu subuh. ( QS Al Hijr 62-66).
Sementara itu, kaum Lut telah mengetahui bahwa Luth kedatangnan tamu. Mereka tidak ragu-ragu untuk menadatangi tamu-tamu tersebut secara menentang sebagaimana mereka sebelumnya telah mendatangi tamu yang lain. Mereka mengepung rumah Luth. Merasa khawatir atas keselamatan tamunya, Luth berbicara kepada kaumnya :

“ Luth berkata : “ Sesungguhnyua mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu ( kepadaku ), dan bertaqwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina”. ( QS Al Hijr 68-69)

Kaum Lut menjawab dengan pedas ; Mereka berkata :” Dan bukankah kami telah melarangmu dari ( melindungi) manusia”. Merasa bahwa Ia dan tamunya akan mendapatkan perlakuan yang keji, Lut berkata : “ Seandainya aku ada mempunyai kekuatan ( untuk menolakmu ) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat ( tentu akan aku lakukan ) (QS Al Hud 80 ).


Tamunya mengingatkannya bahwa sesungguhnya mereka adalah pembawa pesan dari Alllah dan mereka berkata ;” Para utusan (malaikat ) berkata : “ hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun diantara kamu yang tertinggal, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatihnya azab kepada mereka ialah diwakti subuh; bukankah subuh itu sudah dekat ?”. ( QS Hud 81).

Ketika penentangan warga kota mencapai tingkat kebencian yang memuncak, Allah menyelamatkan Lut dengan perantaraan malaikat. Di pagi hari, kaumnya dihancurleburkan dengan bencana yang sebelumnya telah diberitahukan oleh Luth.

“ Dan sesunguhnya mereka telah membujuknya ( agar menyerahkan ) tamunya (kepada mereka ), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa azab yang kekal ( QS Al-Qamar 37-38).

Ayat yang menerangkan pengnhancuran dari kaum ini adalah sebagai berikut :

“ Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik kebawah dan Kami hujani mereka dengan batu belerang yang keras . Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda ( kebesaran Kami ) bagi orang-orang yang meperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak dijalan yang masih tetap ( dilalui manusia). ( QS Al Hijr 73-76).

“ Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri Kaum Luth itu yang atas ke bawah ( Kami balikkan ), dan Kami hujani mereka dengan (batu belerang ) tanah yang terbakar secara bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim. (QS Hud 82-83).

“ Kemudian Kami binasakan yang lain, Dan Kami hujani mereka dengan hujan ( batu belerang) maka amat kejamlah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti-bukti yang nyata. Dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman, Dan sesungguhnya Tuhanmu, benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. ( QS Asy-Syu’araa: 172-175).


Ketika kaum tersebut dihancurkan, hanya Lut dan pengikutnya yang hanya berjumlah tidak lebih dari “sebuah keluarga”. Adapaun istri Luth sendiri yang juga tidak percaya ,ia juga dihancurkan.

“ Dan ( Kami juga yang telah mengutus ) Luth ( kepada kaumnya), (Ingatlah) tatkala dia bnerkata kepada mereka :” Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun ( didunia ini ) sebelumnya?’. Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu ( kepada mereka ), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan :” Usirlah mereka ( Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri”. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikutpengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan ).

Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu belerang), maka perhatikanlahbagaimana kesudahan orang-orang yang memperturutkan dirinya dengan dosa dan kejahaan itu.( QS Al-Araf: 80-84).

Demikianlah maka, Nabi Luth diselamatkan bersama dengan para pengikut dan keluarganya, namun tidak demikian halnya dengan istrinya. Sebagaimana disebutkan dalam Perjanjian Lama, ia (Luth) berindah dan menetap bersama Ibrahim. Adapun terhadap kaum yang sesat mereka dihancurkan dan tempat tinggal mereka diratakan dengan tanah.

“Tanda-tanda yang Jelas “ di Danau Luth Ayat 82 Surat Hud secara jelas menyebutkan jenis bencana yang menimpa kaum Lut. “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri Kaum Lut itu yang atas ke bawah ( Kami balikkan ), dan Kami hujani mereka dengan (batu belerang ) tanah yang terbakar secara bertubi-tubi,”

Pernyataan “ menjungkirbalikkan (kota) “ mengandung makna bahwa kawasan tersebut diluluhlantakkan oleh kedahsyatan gempa bumi. Sesuai dengan keadaan Danau Lut dimana penghancuran terjadi, terkandung bukti “nyata” dari bencana tersebut.

Mengutip apa yang dikatakan oleh ahli arkeologi Jerman bernama Werner Keller, sebagai berikut :Bersamaan dengan dasar dari retakan yang lebar ini yang terjadi secara seksama di daerah ini, Lembah Siddim, termasuk Sodom dan Gomorah, terjerumus secara seketika ( dalam waktu satu hari ) ke dalam jurang yang sangat dalam. Kehancuran tersebut terjadi melalui sebuah peristiwa gempa bumi hebat yang mungkin disertai dengan letusan, petir dan keluarnya gas alam serta terjadinya lautan api yang dahsyat.i
Sebagai sebuah fakta, Danau Lut atau yang lebih dikenal dengan Laut Mati, letaknya tepat berada diatas suatu kawasan gunung berapi aktif, jadi merupakan daerah gempa bumi :
Dasar dari Laut Mati berada pada pusat kehancuran lempeng bumi, Lembah ini terletak diantara rentangan yang rentan antara Danau Taberiya di Utara dan pertengahan danau Arabia di Selatan.

Peristiwa yang dilukiskan dengan “ menghujani mereka dengan batu belerang keras sebagaimana tanah liat yang terbakar secara bertubi-tubu” pada bagian akhir dari ayat. Ini semua mungkin berarti sebuah letusan gunung api yang terjadi di tepian Danau Lut, dan sebagai cadas dan batuan yang meletus dalam bentuk terbakar” ( kejadian yang sama terjadi sebagaimana dalam ayat 173 Suarat ash Syu’araa’ yang menyebutkan : Kami menghujani mereka ( dengan belerang ) maka amat kejamlah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti-bukti yang nyata. Dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman. Dalam kaitannya dengan hal ini, Werner Kelller menulis :

“Subsidence mengeluarkan/membangkitkan tenaga vulkanik yang telah tertidur begitu lama di sepanjang patahan yang panjang. Di lembah yang tinggi di Jordania dekat Bashan masih terdapat kawah yang menggelegak dari gunung api yang sudah mati, lava yang melebar dan batuan basal dalam yang telah terkumpul di dalam permukaan baru lapis.

Lava dan lapisan batu Basalt merupakan bukti terbesar yang ledakan gunung api dan gempa bumi pernah terjadi disini. Bencana alam yang dilukiskan dengan ungkapan “ Ketika Firman Kami telah terbukti, Kami jungkirbalikkan ( kota) “, yang terjadi dalam ayat yang sama, di dalam Al Qur’an kemungkinan besar menunjuk pada gempa bumi yang mengakibatkan letusan gunung api diatas permukaan bumi dengan akibat yang merusak dan terhadap retakan dan reruntuhan yang diakibatkan olehnya, dan Allah yang Maha Mengetahui atas hal tersebut. “ Tanda-tanda yang jelas” yang disampaikan oleh Danau Lut sangatlah menarik, Secara umum, kejadian yang menurut Al Qur’an terjadi di Timur Tengah, Jazirah Arab dan Mesir.

Tepatnya ditengah kawasan ini adalah Danau Lut. Danau Lut dimana kejadian tersebut terjadi dan daerah sekitarnya secara geologis mendapatkan perhatian seksama. Danau tersebut diperkirakan berada 400 meter dibawah permukaan Mediterania. Danau tersebut dalamnya antara 400 meter, sedangkan dasarnya mencapai kedalaman 800 meter dibawah Mediterania.
Ini adalah merupakan titik yang paling rendah di seluruh permukaan bumi, Di daerah lain yang kedalamannya lebih rendah dari permukaan lautan, paling rendah sedalam 100 meter. Sifat lain dari Danau Lut adalah kandungan garammnya yang sangat tinggi, dimana kepekatannya hamper mencapai 30%. Oleh karena itu tidak ada mahluk hidup seperti ikan atau lumur yang dapat bertahan hidup di dalam danau ini. Hal inilah yang menyebabkan Danau Lut dalam literatureliteratur Barat lebih sering disebut dengan “ Laut Mati”.

Kejadian yang menimpa kaum Lut, yang disebutkan dalam Al Qur’an berdasarkan perkiraan terjadi sekitar 1800 SM. Berdasarkan pada penelitian arkeologi dan geologi, peneliti terkenal Jerman Werner Kelller mencatat bahwa kota Sodom dan Gomorah adalah benar-benar berada di lembah Siddim yang merupakan daerah terjauh dan terendah dari ujung Danau Lut.

Hal yang paling menarik adalah susunan karakteristik dari danau Lut adalah bukti yang
menunjukkan kejadian bencana alam sebagaimana yang diceritakan dalam Al Qur’an:

Di bagian Timur pantai Laut Mati adalah semenanjung El Lisan yang berbentuk seperti lidah yang menjulur ke dalam air. El Lisan berarti “ lidah “ dalam bahasa Arab. Dari daratan tidak akan nampak bahwa tanah dibawah permukaan air berguguran pada sudut yang sangat luar biasa, memisahkan air danau menajdi dua bagian. Disebelah kanan semenanjung lereng tanah menghunjam sedalam 1200 kaki. Disebelah kiri semenanjung, secara luar biasa kedalaman air tetap dangkal. Penelitian yang dilakukan beberapa tahun terakhir ini menunjukkan bahwa kedalamannya hanya berkisar antara 50 – 60 kaki. Bagian dangkal yang luar biasa dari Laut mati ini, mulai dari semenanjung el Lisan sampai ke ujung bagian paling Selatan, adalah merupakan Lembah Siddim. Werner Keller menengarai bahwa bagian yang dangkal ini yang ditemukan belakangan adalah merupakan hasil dari gempa bumi dahsyat sebagaimana yang telah disebutkan diatas.

Disinilah dimana Sodom dan Gomorah berada dan disini pulalah kaum Lut pernah hidup. Meskipun memungkinkan untuk melintasi daerah ini dengan berjalan kaki. Namun sekarang Lembah Siddim, dimana Sodom dan Gomorah dahulunya berada, diselimuti oleh permukaan datar bagian bawah Laut Mati. Keruntuhan dari dasar danau sebagai akibat dari bencana alam mengerikan yang terjadi di masa lampau diawal Millenium kedua SM, mengakibatkan air garam dari utara mengalir ke dalam rongga yang belakangan terbentuk dan memenuhi lembah sungai dengan air yang asin.

Jejak-jejak dari danau Lut akan nampak kentara Jika seseorang bersampan melintasi
Danau Lut ke titik paling Utara dan sang Surya sedang bersinar tepat diarahnya, maka ia akan
melihat sesuatu yang menakjubkan. Dari kejauhan pantai akan nampak secara jelas dibawah
permukaan air segaris bentuk hutan yang secara luarbiasa diawetkan oleh kandungan garam
yang tinggi dari Laut Mati. Batang pepohonan dan akar-akaran didalam kilauan air yang hijau
nampaklah sangat kuno. Lembah Siddim dimana pepohonan ini dahulu daunnya pernah
bermekaran menutupi batang dan rantingnya adalah merupakan salah satu lokasi yang paling
indah didaerah ini.

Aspek mekanis dari bencana yang menimpa kaum Lut diungkapkan oleh para peneliti Geologi. Pengungkapan bahwa gempabumi yang menghancurkan Kaum Lut terjadi sebagai akibat rekahan yang sangat panjang didalam kerak bumi (fault line ) sepanjang 190 KM yang memanjang membentuk dasar sungai Sheri’at. Sungai Sheri’at secara total runtuh 180 meter.

Diantara bukit ini dan fakta bahwa danau Lut berada 400 meter dibawah permukaan laut adalah dua potong bukti penting yang menunjukkan bawa peristiwa geologis yang sangar hebat pernah terjadi disini. Susunan yang menarik dari sungai Sheri’at dan Danau Lut hanya tersusun atas rekahan kecil yang memisahkan kawasan ini dari kerak bumi. Keadaan seperti tersebut dan rekahan yang memanjang baru dapat ditemukan pada waktu akhir-akhir ini.

Pandangan dari atas gunung-gunung di sekitar danau Luth Penghancuran kaum Luth telah memberikan banyak ilham bagi banyak pelukis, salah satunya seperti tampak diatas Beberapa reruntuhan dari kota yang terkubur didalam danau, ditemukan di tepian danau. Peninggalan tersebut menunjukkan bahwa kaum Lut telah memiliki standar hidup yang cukup tinggi.

Kondisi rekahan ini berasal dari daerah tepian gunung Taurus, memanjang ke pantai selaran danau Lut dan terus berlanjut diatas gurun Arabia ke Teluk Aqaba dan berlanjut melintasi Laut Merah dan berakhir di Afrika. Di sepanjang jarak tersebut terdapat aktifitas gunung berapi yang sangat kuat. Batuan Basalt hitam dan lava terdapat di gunung Galilea di Israel,daerah dataran tinggi Jordania, Teluk Aqaba dan daerah sekitarnya.

Seluruh reruntuhan dan bukti-bukti geografis tersebut menunjukan bahwa bencana
geologis dahsyat pernah terjadi di danau Lut. Werner Kelller menulis:
Bersamaan dengan dasar dari retakan yang lebar ini yang terjadi secara seksama di daerah
ini, Lembah Siddim, termasuk Sodom dan Gomorah, terjerumus secara seketika (dalam waktu
satu hari ke dalam jurang yang sangat dalam. Kehancuran tersebut terjadi melalui sebuah
peristiwa gempa bumi hebat yang mungkin disertai dengan letusan, petir dan keluarnya gas
alam serta terjadinya lautan api yang dahsyat. Subsidence mengeluarkan/membangkitkan tenaga vulkanik yang telah tertidur begitu lama di sepanjang patahan yang panjang. Di lembah yang tinggi di Jordania dekat Bashan masih terdapat kawah yang menggelegak dari gunung api yang sudah mati, lava yang melebar dan batuan basalt dalam yang telah terkumpul di dalam permukaan batu lapis.

Lembaga Geografi nasional Amerika Serikat (National Geographic) pada Desember
1957 menyatakan sebagai berikut: Gunung Sodom, merupakan tanah gersang dan tandus
muncul secara mendadak diatas Laut Mati. Tidak ada seorangpun yang pernah menemukan
kota Sodom dan Gomorah yang dihancurkan, namun para ilmuwan percaya bahwa kota ini
dahulunya berada di lembah Siddim yang terletak melintang di sepanjang tepian tebing jurang
terjal ini. Kemungkinan air bah dari Laut Mati yang menelan mereka yang disertai dengan
gempa bumi.

 Werner Keller, Und Die Bibel hat doch recht (The Bible as History: a Confirmation of the Book
of Books), New York: William Morrow, 1964, p.75-76
 Le Monde de la Bible, Archeologie et Historie, July-August 1993.
Werner Keller, Und Die Bibel hat doch recht (The Bible as History: a Confirmation of the
Book of Books), New York: William Morrow, 1964, p.76
Ibid, pp.73-74
Ibid, pp.75-76
G. Ernest Wright,Bringing Old testament Times to Life, national Geographic, Vol.12,
December 1957,p.833
READ MORE -> Kaum Nabi Luth dan Kota yang Dijungkirbalikkan

Kehidupan Nabi Ibrahim

0 komentar

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjHOZge8sDHlYGBeeVWYYitUPKqANUBgGSgFOBvjBqIFOk4iR0owdu6TnF-AORWksUuPJDhkyKdsQTi1u-FqdGWB5Vc2y7yikXoItaZ3DkEDGkV0bNLPNM7ZeK-mrpztdl0rPVmMCMQlH3l/s1600/A-10.jpgIbrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi menyerahkan diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia dari golongan orang yang musyrik.

Sesungguhnya orang yang paling dekat kepaa Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad) serta orang-orang yan beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah pelindung semua orangh-orang yang beriman. (QS Ali Imran 67-68).

Nabi Ibrahim (Abraham) sering disebutkan di dalam Al Qur’an dan mendapatkan tempat yang istimewa di sisi Allah sebagai contoh bagi manusia. Dia menyampaikan kebenaran dari Allah kepada umatnya yang menyembah berhala, dan dia mengingatkan mereka agar takut kepada Allah. Umat nabi Ibrahim tidak mematuhi perintah itu, bahkan sebaliknya mereka menentangnya. Ketika penindasan yang semakin meningkat dari kaumnya, nabi Ibrahim pindah ke mana saja bersama istrinya, bersama dengan nabi Lut dan mungkin dengan bebeapa orang lain yang menyertai mereka.

Nabi Ibrahim adalah keturunan dari nabi Nuh. Al qur’an juga mengemukakan bahwa dia juga mengikuti jalan hidup (diin) yang diikuti Nabi Nuh.

“Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam”. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman. Kemudian Kami tengelamkan orang-orang yang lain. Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh). (QS Ash- Shafaat: 79-83).

Pada masa Nabi Ibrahim, banyak orang yang menghuni dataran Mesopotamia dan di
bagian Tengah dan Timur dari Anatolia tinggal orang-orang yang menyembah surga-surga dan
bintang-bintang. Tuhan yang mereka anggap paling penting adalah “Sin” yaitu Dewa Rembulan. Tuhan mereka ini dipersonifikasikan sebagai seorng manusia yang berjenggot panjang, memakai pakaian panjang membawa rembulan berbetuk bulan sabit diatasnya. Lagian, orang –orang tersebut membuat hiasan gambar-gambar timbul dan pahatan-pahatan (patung) dari tuhan mereka itu dan itulah yang mereka sembah. Hal ini merupakan system kepercayaan yang tersebar luas ketika itu, yang mendapatkan tempat persemaiannya di Timur Dekat (Near East), dimana keberadaannya terpelihara dalam jangka waktu yang lama. Orang-orang yang tinggal di wilayah tersebut terus saja menyembah tuhan-tuhan tersebut hingga sekitar tahun 600 M. Sebagai akibat dari kepercayaan itu, banyak bangunan yang dikenal dengan nama “ziggurat” yang dulu dipakai sebagai observatorium (tempat penelitian bintang-bintang) sekaligus sebagai kuil tempat peribadatan yang dibangun di daerah yang membentang sejak dri Mesopotamia hingga ke kedalaman Anatolia, disinilah beberapa tuhan,terutama dewa(i) Rembulan yang bernama “Sin” disembah oleh orang-orang ini.

Kepercayaan yang hanya bisa ditemukan dalam penggalian arkeologis yang dilakuan saat ini, telah disebutkan dalam Al Qur’an. Sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an, Ibrahim menolak penyembahan tuhan-tuhan tersebut dan berpegang teguh kepada Allah saja, satusatunya Tuhan yang sebenarnya. Dalam Al Qur’an, perjalanan hidup Ibrahim digambarkan sebagai berikut :

Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar: “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?. Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata. Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdpat) di langit dan di bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malah telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”.

Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata : “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata : “Inilah Tuhanku”.

Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata : “Sesungguhnya jika Tuhnaku tidak memberikan petunjuk kepadakum pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”.

Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah tuhanku, ini lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata : “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan b umi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.(QS. Al-An’an: 74-79)

Dalam al Qur’an, tempat kelahiran Ibrahim dan tempat di mana dia tinggal tidak dikemukakan dengan terperinci. Tetapi diindikasikan bahwa Ibrahim dan Lut tinggal di tempat yang saling berdekatan satu sama lain dan malaikat yang diutus kepada umat nabi Lut juga mendatangi Ibrahim dan memberitahukan pada istrinya suatu berita gembira tentang bayi lakilaki (yang dikandungnya), sebelum para malaikat itu pergi melanjutkan perjalanan mereka menuju nabi Lut.

Cerita penting tentang Nabi Ibrahim dalam al Qur’an yang tidak disebutkan dalam Perjanjian Lama adalah tentang pembangunan Ka’bah. Dalam Al Qur’an, kita diberitahu bahwa Ka’bah dibangun oleh Ibrahim dan putranya Ismail. Sekarang ini, satu-satunya hal yang diketahui oleh ahli sejarah tentang Ka’bah adala h bahwa Ka’bah merupakan tempat yang suci sejak masa yang sangat tua. Adapun penempatan berhala -berhala pada Ka’bah selama masa jahiliyah berlangsung sampai diutusnya Nabi Muhammmad, dan itu merupakan penyimpangan dan kemunduran atas agama suci Ilahi yang pernah diwahyukan kepada Nabi Ibrahim.

Pada masa Nabi Ibrahim, agama politheisme menyebar ke seluruh wilayah Mesopotamia. Sang Dewa rembulan “Sin” salah satu berhala yang paling penting. Orang-orang membuat patung-patung dari tuhan-tuhan mereka dan menyembahnya. Disebelah tampak patung sin. Simbul bulan sabit dapat terlihat dengan jelas pada dada patung tersebut.

Ibrahim Dalam Perjanjian Lama

Perjanjian Lama kemungkinan besar merupakan sumber paling detail dalam hal-hal yang berkenaan dengan Ibrahim, meskipun banyak diantaranya yang mungkin tidak bias dipercaya. Menurut pembahasan dalam perjanjian lama, Ibrahim lahir sekitar 1900 SM di kota Ur, yang merupakan salah satu kota terpenting saat itu yang berlokasi di Timur Tengah dataran Mesopotamia. Pada saat lahir, Ibrahim tidak (belum) bernama “Ibrahim”, tetapi “Abram”. Namanya kemudian kemudian dirubah oleh Allah (YHWH).

Pada suatu hari, menurut Perjanjian Lama, Tuhan meminta Ibrahim untuk mengadakan perjalanan meninggalkan negeri dan masyarakatnya, menuju ke suatu negeri yang tidak pasti dan memulai sebuah masyarakat baru di sana. Abram pada usia 75 tahun mendengarkan seruan/pangilan itu dan melakukan perjalanan bersama istrinya yang mandul yang bernama Sarai – yang kemudian dikenal dengan nama “Sarah” yang berarti puteri raja – dan anak dari saudaranya yang bernama Lut. Dalam perjalanan menuju ke “Tanah yang Terpilih (Chosen Land)” mereka singgah/tingal di Harran untuk sementara waktu dan kemudian melanjutkan perjalanan mereka. Ketika mereka sampai di tanah Kanaan yang djanjikan oleh Allah kepada mereka, mereka diberikan wahyu oleh Allah berupa berupa pemberiahuan bahwa tempat tersebut secara khusus dipilihkan oleh Allah buat mereka dan dianugerhkan buat mereka.

Ketika Abram mencapai usia 99 tahun, dia membuat perjanjian dengan Allah dan namanya kemudian dirubah menjadi Ibrahim (Abraham). Dia meninggal pada usia 175 tahun dan dikubur di gua Macpelah yang berdekatan dengan kota Hebron (e l-Kalil) di West Bank (tepi barat)yang hari ini wilayah tersebut di bawah penguasan Israel. Tanah tersebut sebenarnya dibeli oleh Ibrahim dengan sejumlah uang dan itu merupakan kekayaannya dan keluarganya yang pertama di Tanah Yang Dijanjikan itu (Promise Land).

Ziggurat yang digunakan baik sebagai kuil dan observatory perbintangan yang dibangun dengan
teknik yang paling maju ada masa itu. Bintang, rembulan dan matahari menjadi objek utama dari
penyembahan dan langi memiliki hal yang sangat penting. Di sebelah kiri dan bawah adalah ziggurat
utama dari bangsa Mesopotamia.

Tempat Kelahiran Ibrahim Menurut Perjanjian Lama

Dimanakah tempat dilahirkannya Ibrahim, tetaplah merupakan sebuah isu yang diperdebatkan. Orang Kristen dan Yahudi menyatakan bahwa Ibrahim dilahirkan di sebelah Selatan Mesopotamia, pemikiran yang lazim dalam dunia Islam adalah bahwa tempat kelahiran nya adalah di sekitar Urfa-Harran. Beberapa penemuan baru menunjukkan bahwa thesis dari kaum Yahudi dan Kristen tidaklah menyiratkan kebenaran yang seutuhnya.

Orang Yahudi dan Kristen menyandarkan pendapat mereka pada Perjanjian Lama, karena dalam Perjanjian lama tersebut, Ibrahim dikatakan telah dilahirkan di kota Ur sebelah Selatan Mesopotamia setelah Ibrahim lahir dan dibesarkan di kota ini, dia dcieritakan telah menempuh sebuah perjalanan menuju Mesir, dan dalam perjalanan tersebut mereka melewati suatu tempat yang dikenal dengan nama Harran di wiayah Turki.

Meskipun demkian, sebuah manuskrip Perjanjian Lama yang ditemukan baru-baru ini,
telah memunculkan keraguan yang serius tentang kesahihan/validitas dari informasi di atas.

Dalam manuskrip yang ditulis dalam bahasa Yunani yang dibuat sekitar sekitar abad ketiga SM,
dimana manuskrip tersebut diperhitungkan sebagai salinan yang tertua dari Perjanjian Lama, juga nama tempat “Ur” tidak pernah disebutkan. Hari ini banyak peneliti Perjanjian Lama yang menyatakan bahwa kata -kata “Ur” tidak akurat atau bahwa Ibahim tidak dilahirkan di kota Ur dan mungkin juga tidak pernah mengunjungi daerah/wilayah Mesopotamia selama hidupnya.

Disamping itu, nama-nama beberapa lokasi serta daerah yang disebutkan itu, telah berubah karena perkembangan jaman. Pada saat ini dataran Mesopotamia biasanya merujuk kepada tepi sungai sebelah selatan dari daratan Irak, diantara sungai Efrat dan Tigris. Lagipula, dua milinium (2000 tahun) sebelum kita, daerah Mesopotamia digambarkan sebagai sebuah daerah yang letaknya lebih ke Utara, bahkan lebih jauh ke autara sejauh Harran, dan membentang sampai ke daerah yang saat ini merupakan daratan Turki. Karena itulah, bila sekalipun kita menerima pendapat bahwa “Dataran Mesopotamia” yang disebutkan dalam Perjanjian Lama, tetap saja akan terjadi misleading (keliru) untuk berpikir bahwa Mesopotamia dua millennium yang lebih awal dan Mesopotamia hari ini adalah sebuah tempat yang persis sama.

Banhkan seandainya juga ada keraguan serius dan ketidaksepakatan tentang kota Ur sebagai tempat kelahiran Ibrahim, tetapi ada sebuah pandangan umum yang disetujui yaitu tentang fakta bahwa Harran dan daerah yang melingkupinya adalah tempat dimana Nabi Ibrahim hidup. Lebih dari itu, peneliltian singkat yang dilakukan terhadap isi Perjanjian Lama tersebut memunculkan beberapa informasi yang mendukung pandangan bahwa tempat kelahiran Nabi Ibrahim adalah Harran. Sebagai contoh di dalam Perjanjian Lama, daerah Harran ditunjuk sebagai “daerah Artam” (Genesis, 11:31 dan 28:10). Disebutkan bahwa orang yang datrang dari keluarga Ibrahim adalah “anak-anak dari seorang Arami” (Deutoronomi, 26:5). Identifikasi penyebutan Ibrahim dengan sebutan “seorang Arami” menunjukkan bahwa beliau (Ibrahim) melangsungkan kehidupannya di daerah ini.

Dalam berbagai sumber agama Islam, terdapat bukti yang kuat bahwa tempat kelahiran Ibrahim adalah Harran dan Urfa. Di Urfa yang disebut dengan “kota para Nabi” ada banyak dan legenda tentang Ibrahim.

Mengapa Perjanjian Lama Dirubah?

Perjanjian Lama dan Al Qur’an dalam mengungkapkan kisah tentang Ibrahim, tampaknya hampir-hampir menggambarkan dua orang sosok Nabi yang berbeda, yang bernama Abraham dan Ibrahim. Dalam Al Qur’an, Ibrahim diutus sebagai rasul bagi sebuah kaum penyembah berhala. Kaum Ibrahim tersebut menyembah surga-surga, bintang-bintang dan rembulan serta berbagai sembahan lain. Dia berjuang melawan kaumnya dan selalu berusaha untuk mencoba agar mereka meninggalkan kepercayaan-kepercayaan tahayul dan secara tidak terhindarkan, hal; itu juga telah membangkitkan nyala api permusuhan dari seluruh masyarakatnya bahkan termasuk ayahnya sendiri.

Sebenarnya, tidak ada satupun dari hal yang disebutkan diatas diceritakan dalam Perjanjian Lama. Dilemparkannya Ibrahim ke dalam api, bagaimana Ibrahim menghancurkan berhala -berhala yang disembah oleh masyarakatnya, tidaklah disebutkan dalam Perjanjian Lama. Secara umum Ibrahim digambarkan sebagai nenek moyang bangsa Yahudi dalam Perjanjian Lama. Hal ini menjadi bukti bahwa pandangan di dalam Perjanjian Lama ini dibuat oleh para pemimpin masyarakat Yahudi yang mencoba memberikan pijakan di masa mendatang konsep “ras/suku bangsa”. Bangsa Yahudi percaya bahwamereka adalah kaum yang selalu dipilih oleh Tuhan dan merasa lebih unggul dari yang lainya. Mereka dengan sengaja dan penuh keinginan untuk mengubah kitab Suci mereka dan membuat penambahan-penambahan serta berbagai pengurangan berdasarkan keyakinan seperti di atas. Inilah sebabnya mengapa Ibrahim digambarkan sebagai nenek moyang bangsa Yahudi belaka dalam Perjanjian Lama.

Penganut Kristen yang percaya terhadap Perjanjian Lama, berpikir bahwa Ibrahim adalah nenek moyang bangsa Yahudi, namun hanya terdapat satu perbedaan; menurut penganut Kristen, Ibrahim bukanlah seorang Yahudi namun ia adalah seorang Kristen. Penganut Kristen yang tidak begitu memperhatikan konsep mengenai ras/suku bangsa sebagaimana dilakukan Yahudi, mengambil pendirian ini dan hal ini menjadi salah satu penyebab perbedaan dan pertentangan diantara kedua agama ini. Allah memberikan keterangan sebagaimana yang disebutkan dalam Al Qur’an sebagai berikut :

Hai ahli kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir?. Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah-membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah dalam hal yang tidak kamu ketahui; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.

Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi menyerahkan diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia dari golongan orang yang musyrik”.

Sesungguhnya orang yang paling dekat kepaa Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad) serta orang-orang yan beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah pelindung semua orangh-orang yang beriman. (QS Ali-Imran 65-68).

Di dalam Al Qur’an sangatlah berbeda dengan apa yang ditulis dalam Perjanjian Lama, Ibrahim adalah seseorang yang memperingatkan kaumnya agar mereka takut kepada Allah, serta bahwa dia adalah seseorang yang berperang/berjuang melawan kaumnya itu pada akhirnya. Dimulai sejak masa mudanya, ia memperingatkan kaumnya yang m,enyembah berhala -berhala untuk menghentikan perbuatan mereka itu. Sebagai reaksi, kaumnya bertindak dengan mencoba untuk membunuh Ibrahim. Untuk menghindar dari kejahatan yang dilakukan oleh kaumnya, maka Ibrahimpun akhirnya berpindah tempat.

Everett C. Blake, Anna G. Edmonds, Biblical Sites in Turkey, Istanbul: Redhouse Press,
1977,.p.13
READ MORE -> Kehidupan Nabi Ibrahim

Jumat, 19 Juli 2013

Banjir Nabi Nuh

0 komentar
http://www.mesammesem.com/serverupload/uploadsberita/3680/noah_flood.jpg
Sebagaimana Banjir Nuh itu juga dikisahkan dalam hampir seluruh kebudayaan manusia,
banjir Nuh adalah salah satu dari sekian banyak contoh kisah-kisah yang paling banyak
diuraikan dalam al-Qur'an. Kengganan umat Nabi Nuh terhadap nasehat dan peringatan dari
Nabi Nuh, bagaimana reaksi mereka terhadap risalah Nabi Nuh, serta bagaimana peristiwa
banjir selengkapnya terjadi, semuanya diceritakan dengan sangat detail dalam banyak ayat al-
Qur'an.

Nabi Nuh diutus untuk mengingatkan umatnya yang telah meninggalkan ayat-ayat Allah
dan menyekutukanNya, dan menegaskan kepada mereka untuk hanya menyembah Allah saja
dan berhenti dari sikap pembangkangan mereka. Meskipun Nabi Nuh telah menasehati umatnya
berkali-kali untuk mentaati perintah Allah serta mengingatkan akan murka Allah, mereka masih
saja menolak dan terus menyekutukan Allah.

Tentang bagaimana kejadian itu berkembang, dilukiskan dengan jelas dalam ayat-ayat
berikut:

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Lalu ia berkata
Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu
selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya)?. Maka pemuka-pemuka
orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: Orang ini tidak lain hanyalah manusia
seperti kamu , yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu .
Dan kalau Allah menghendaki , tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum
pernah kami mendengar seruan (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami
yang dahulu. Ia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang be rpenyakit gila , maka
tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu. Nuh berdoa, Ya Tuhanku,
tolonglah aku karena mereka mendustakanku .(Al-Mukminun : 23-26)

Sebagaimana dikemukakan dalam ayat-ayat tersebut, pemuka masyarakat di sekitar Nabi
Nuh berusaha menuduh bahwa Nabi Nuh telah berusaha untuk munjukkan superioritasnya atas
masyarakat lingkungannya, mencari keuntungan pribadi seperti status sosial, kepemimpinan
dan kekayaan...... Karena itulah, Allah menyampaikan pada Rasulullah Nuh bahwa mereka yang menolak kebenaran dan melakukan kesalahan akan dihukum dengan detenggelamkan, dan mereka yang beriman akan diselamatkan.

Maka, pada saat hukuman datang, air dan aliran yang sangat deras muncul dan
menyembur dari dalam tanah, yang dibarengi dengan hujan yang sangat lebat, telah
menyebabkan banjir yang dahsyat. Allah memerintahkan kepada Nuh untuk "menaikkan ke atas
berahu pasangan-pasangan dari setiap species, jantan dan betina, serta keluarganya. Seluruh
manusia di daratan tersebut ditenggelamkan ke dalam air, termasuk anak laki-laki Nabi Nuh
yang semula berpikir bahwa dia bisa selamat dengan mengungsi ke sebuah gunung yang dekat.
Semuanya tenggelam kecuali yang dimuat di dalam perahu bersama Nabi Nuh. Ketika air surut
di akhir banjir tersebut, dan "kejadian telah berakhir", perahu terdampar di Judi, yaitu sebuah
tempat yang tinggi, sebagaimana yang diinformasikan oleh Qur'an kepada kita.
Studi arkeologis, geologis, dan studi historis menunjukkan bahwa insiden tersebut terjadi
dengan cara yang sangat mirip dan berhubungan dengan informasi al-Qur'an. Banjir tersebut
juga digambarkan secara hampir mirip di dalam beberapa rekaman atas peradaban-pertadaban
masa lalu di dalam banyak dokumen sejarah, meski ciri-ciri dan nama-nama tempat bervariasi,
dan "seluruh apa yang terjadi pada sebuah asbak manusia" disajikan untuk manusia saat ini
dengan tujuan sebagai peringatan.

Di samping dikemukakan dalam Perjanjian Lama, kisah tentang banjir Nuh ini diungkap
dengan cara yang hampir mirip dalam rekaman-rekaman sejarah Sumeria dan Assiria-
Babilonia, dalam legenda-legenda Yunani, dalam Shatapatha, Brahmana serta epik-epik dalam
Mahabarata dari India, dalam beberapa legenda dari Welsh di British Isles, di dalam Nordic
Edda, dalam legenda-leganda Lituania, dan bahkan dalam cerita-cerita yang berasal dari Cina.
Bagaimana mungkin bisa terjadi, cerita-cerita yang sebegitu detail dan konsisten bisa
didapat dari daratan-daratan yang secara gegografis dan kultural berbeda jauh, yang saling
berjauhan letaknya baik antara satu tempat dengan tempat yang lainnya, maupun dari tempattempat
tersebut dengan tempat terjadinya banjir?.

Jawabannya sangat jelas: fakta bahwa peristiwa yang sama, yang saling berkaitan dalam
berbagai rekaman sejarah berbagai bangsa tersebut, yang mana sangat kecil kemungkinannya
bahwa mereka bisa saling berkomunikasi (mengingat masih rendahnya peradaban masa itu), itu
semua merupakan bukti yang sangat gamblang bahwa orang-orang dari berbagai bangsa itu
menerima pengetahuan tentang banjir itu dari sebuah sumber Ilahiah. Nampaknya bahwa banjir
Nuh, salah satu dari tragedi yang paling besar dan destruktif sepanjang sejarah itu, telah
diriwayatkan oleh banyak Nabi yang diutus ke berbagai peradaban bangsa-bangsa dengan
tujuan untuk memberikan sebuah contoh atau I’tibar. Dengan demikian bisalah dipahami
dengan mudah bahwa berita tentang banjir Nuh itu tersebar dalam berbagai budaya di dunia.
Namun, di balik diriwayatkannya kejadian itu dalam berbagai budaya dan sumber-sumber
ajaran berbagai agama, cerita banjir dan tragedi yang terjadi pada masa Nabi Nuh itu telah
mengalami perubahan yang cukup banyak dan telah terpendar dari kisah aslinya dikarenakan
kepalsuan berbagai sumber ceritanya, pemindahan cerita dengan cara yang tidak benar, atau
bahkan mungkin dikarenakan memang sengaja dilakukan untuk suatu tujuan-tujuan yang tidak
baik. Riset menunjukkan bahwa, di antara sekian banyak riwayat tentang banjir Nuh yang
secara mendasar masih berkaitan namun dengan berbagai perbedaan, satu-satunya
penggambaran (periwayatan) yang paling konsisten hanya satu, yakni di dalam al-Qur’an.

Nabi Nuh dan Banjir dalam al-Qur’an

Banjir Nuh disebutkan dalam banyak ayat di dalam al-Qur’an. Di bawah ini bisa dilihat
ayat-ayat yang disusun berdasarkan urut-urutan peristiwa banjir tersebut:

Nabi Nuh Menyeru Kaumnya pada Agama Kebenaran

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnyalalu ia berkata: Wahai
kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selainNya. Sesungguhnya
(kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang
besar (kiamat). (Al-A’raf: 59)

Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,
maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta
upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta
alam. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. QS. Asy-Syuara’: 107-110)

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Lalu ia berkata
Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu
selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya)?.QS. Al-Mukminun: 23)
Peringatan Nabi Nuh kepada kaumnya untuk Menghindari Hukuman dari Allah
Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan):
Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih(QS.
Nuh: 1)

Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang
menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal. (QS. Hud:39)
Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan
ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan. (QS. Hud: 26).

Pembangkangan kaum Nabi Nuh

Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: Sesungguhnya kami memandang kamu
berada dalam kesesatan yang nyata.(QS. Al-A’raf: 60)

Mereka berkata: Hai Nuh sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan
kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada
kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang
benar. (QS. Hud: 32)

Dan mulailah Nuh membuat bahtera . Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan
melewati Nuh, mereka mengejeknya. Berkata Nuh: Jika kamu mengejek kami, maka
sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami).
(QS. Hud: 38)

Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: Orang ini
tidak lain hanyalah manusia seperti kamu , yang bermaksud hendak menjadi seorang
yang lebih tinggi dari kamu . Dan kalau Allah menghendaki , tentu Dia mengutus
beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar seruan (seruan yang seperti)
ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu. Ia tidak lain hanyalah seorang laki-laki
yang berpenyakit gila, maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu. (QS.
Al-Mukminun: 24-25)

Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kaum Nuh maka mereka mendustakan
hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi
ancaman.(QS. Al-Qamar: 9)

Penghinaan terhadap para pengikut Nabi Nuh

Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: Kami tidak
melihat kamu , melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak
melihat orang-orang yang mengikuti kamu , melainkan orang-orang yang hina dina di
antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu
kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang
dusta. (QS. Hud: 27)

Mereka berkata: Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti
kamu ialah orang-orang yang hina? Nuh menjawab: Bagaimana aku mengetahui apa
yang telah mereka kerjakan?. Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain
hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari .Dan aku sekali-kali tidka akan
mengusir orang-orang yang beriman. Aku (ini) tidak lain melainkan pemberi peringatan
yang menjelaskan. (QS. Asy-Syuara’: 111-115).

Peringatan Allah agar Nabi Nuh tidak Bersedih

Dan diwahyukan kepada Nuh , bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di
antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu
bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. Hud: 36)

Doa Nabi Nuh

Maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka , dan
selamatkanlah aku dan orang-orang yang mukmin besertaku. (QS. Asy-Syuara’: 118).
Maka dia mengadu kepada Tuhannya : bahwasanya aku ini adalah orang yang
dikalahkan, oleh sebab itu tolonglah (aku). (QS. Al-Qamar: 10)

Nuh berkata: Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan
siang. Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebe naran). (QS. Nuh:
5-6).

Nuh berdoa : Ya Tuhanku tolonglah aku, karena mereka mendustakan aku.(QS.
Al-Mukminun: 26)

Sesungguhnya Nuh telah menyeru kami : Maka sesungguhnya sebaik-baik yang
memperkenankan (adalah Kami).(QS. Ash-Shaffat: 75)

Pembuatan Kapal (Bahtera)

Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami , dan
janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang zalim itu , sesungguhnya
mereka itu akan ditenggelamkan. (QS. Hud: 37)

Penghancuran umat Nabi Nuh dengan cara Ditenggelamkan

Maka mereka mendustakan Nuh , kemudian kami selamatkan dia dan orang-orang
yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang
mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata
hatinya).(QS. Al-A’raf: 64)

Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal.(QS. Asy-
Syuara: 120)

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di
antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun.Maka mereka ditimpa banjir besar
, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.(QS. Al- Ankabut: 14)

Dibinasakannya Putera Nabi Nuh

Al-Qur’an sehubungan dengan dengan dialog yang terjadi antara Nabi Nuh dan
puteranya, pada tahap-tahap awal dari terjadinya banjir mengungkapkan:

Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung, dan
Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat jauh terpencil : Hai anakku,
naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang
kafir. Anaknya menjawab: Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat
memeliharaku dari air bah!. Nuh berkata : Tidak ada yang melindungi hari ini dari
azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang. Dan gelombang menjadi
penghalang antara keduanya ; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang
ditenggelamkan. (QS. Hud: 42-43)

Diselamatkannya Orang-Orang yang Beriman dari Banjir

Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang
penuh muatan.(QS. Asy-Syuara: 119).
Maka kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan kami
jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua umat manusia. (QS. Al-Ankabut: 15)

Bentuk Fisik dari Banjir yang Terjadi

Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah .
Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah air-air itu
untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas
(bahtera) yang terbuat dari papan dan paku. (QS. Al-Qamar: 11-13).

Hingga apabila perintah Kami datang dan ‘dapur’(permukaan bumi yang
memancarkan air hingga meneyebabkan timbulnya taufan) telah memancarkan air,
Kami berfirman: Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang
sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu
ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman. Dan tidak
beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. Dan Nuh berkata: Naiklah kamu
sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.
Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan
bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung, dan Nuh
memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat jauh terpencil : Hai anakku,
naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang
kafir.. (QS. Hud: 40-42).

Lalu Kami wahyukan kepadanya : Buatlah bahtera di bawah penilikan dan
petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan ‘tannur’ telah
memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap
(jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan
ditimpa azab) di antara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang
orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.(QS. Al-
Mukminun: 27)

Terdamparnya Perahu di Tempat yang Tinggi

Dan difirmankan: Hai bumi tahanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,
dan airpun disurutkan, perintah pun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas
bukit Judi, dan dikatakan: Binasalah orang-orang yang zalim. (QS. Hud: 44)

I’tibar yang Diambil dari Peristiwa Banjir

Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek
moyang) kamu ke dalam bahtera, agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kamu
dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. (QS. Al-Haqqah: 11-12)

Pujian Allah terhadap Nabi Nuh

Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam. Sesungguhnya
demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Ash-
Shaffat: 79-81)

Apakah Banjir itu Bencana Lokal Saja ataukah Global ?

Mereka yang menolak realitas terjadinya Banjir masa nabi Nuh, menopang pendirian
mereka dengan menyatakan bahwa banjir global atas seluruh dunia adalah suatu hal yang
mustahil. Bukan hanya itu, penyangkalan mereka atas terjadinya banjir yang bagaimanapun
bentuknya adalah ditujukan untuk menyerang apa yang telah dikemukakan al-Qur’an. Menurut
mereka, semua kitab yang berasal dari wahyu, termasuk al-Qur’an, mempertahankan pendirian
bahwa banjir Nuh adalah banjir yang global, dan karenanya, seluruh berita itu adalah informasi
yang keliru.

Penolakan terhadap pernyataan al-Qur’an ini tidak benar. Al-Qur’an diwahykan oleh
Allah, dan al-Qur’an ini merupakan satu-satunya kitab suci yang tidak terrubah. Al-Qur’an
memandang banjir dengan sudut pandang yang sangat berbeda dibandingkan cara pandang
Pentateuch dan legenda-legenda tentang banjir yang lain yang diriwayatkan dalam berbagai
kebudayaan. Pentateuch, nama bagi lima buku (kitab) pertama dalam Perjanjian Lama,
menyatakan bahwa banjir tersebut bersifal global, menutupi seluruh bumi. Namun, al-Qur’an
tidak memberikan keterangan seperti itu, dan sebaliknya, ayat-ayat yag relevan dengan
peristiwa ini membawa pada suatu kesimpulan bahwa banjir itu hanya bersifat regional
(menutupi wilayah tertentu) dan tidak menutupi seluruh bumi, dan hanya menenggelamkan
umat Nabi Nuh saja yang mereka itu telah diberi peringatan oleh nabi Nuh dan akhirnya
membangkang, sehingga mereka dihukum.

Ketika riwayat-riwayat tentang banjir dalam Perjanjian Lama dan riwayat-riwayat sejenis
dalam Al-Qur’an diuji, perbedaannya sederhana saja. Perjanjian Lama, yang telah mengalami
banyak perubahan dalam penambahan sepanjang sejarahnya, yang karenya tidak bisa dinilai
sebagai wahyu yang orisinil, menggambarkan bagaimana banjir berawal dalam uraian sebagai
berikut:

Dan Tuhan melihat bahwa kejahatan manusia di bumi adalah besar, dan bahwa
setiap imajinasi dari pikiran-pikiran dalam hatinya hanya selalu perbuatan jahat. Dan ini
menjadikan Allah menyesali bahwa Dia telah menciptakan manusia, dan ini
menyedihkan hatiNya. Dan Tuhan berkata, Saya akan membinasakan manusia yang telah saya ciptakan dari permukaan bumi; kedua jenis yang ada, manusia dan binatang,
dan segala yang merayap, dan unggas-unggas di udara, yang karena telah
mengecewakanKu yang telah mencipatakan mereka. Akan tetapi, (Nabi) Nuh
mendapatkan kasih sayang di mata Tuhan (Genesis, 6: 5-8)

Meski demikian, dalam al-Qur’an, diperlihatkan dengan jelas bahwa banjir itu tidak
meliputi seluruh dunia (bumi), tetapi hanya umat Nabi Nuh yang dihancurkan. Tidak berbeda
sebagaimana Nabi Hud diutus hanya untuk kaum ‘Ad (QS. Hud: 50), Nabi Shalih diutus untuk
kaum Tsamud (QS. Hud: 61) serta seluruh Nabi kemudian sebelumMuhammad adalah diutus
hanya untuk umat mereka saja, Nabi Nuh hanya diutus untuk umatnya dan banjir tersebut hanya
menyebabkan punahnya umat Nabi Nuh;

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata):
Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, agar kamu tidak
menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab (pada)
hari yang sangat menyedihkan. (QS. Hud: 25-26)

Mereka yang dimusnahkan adalah orang-orang yang secara total tidak menghiraukan
Proklamasi Nabi Nuh akan kerasulannya dan senantiasa menentang. Ayat-ayat yang senada
telah menggambarkan dengan cara yang cukup gamblang:

Maka mereka mendustakan Nuh , kemudian kami selamatkan dia dan orang-orang
yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang
mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata
hatinya).(QS. Al-A’raf: 64).

Di samping itu, dalam al-Qur’an , Allah menegaskan bahwa Dia tidak akan
menghancurkan suatu komunitas masyarakat kecuali seorang rasul telah diutus kepada mereka.
Penghancuran terjadi jika seorang pemberi peringatan telah sampai kepada suatu kaum, dan
pemberi peringatan itu didustakan. Allah menyatakan hal itu dalam Surat al-Qashash:

Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum dia mengutus di
ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak
pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan
melakukan kezaliman. (QS. Al-Qashash: 59).

Bukanlah cara Allah untuk mengancurkan suatu kaum yang kepada mereka belum Dia
turunkan rasul. Sebagai seorang pemberi peringatan, Nuh hanya diutus untuk kaumnya saja.
Karena itu, Allah tidak menghancurkan kaum-kaum yang kepada mereka tidak Dia utus rasul,
akan tetapi Allah hanya menghancurkan umat Nabi Nuh.

Dari penyataan-pernyataan dalam al-Qur’an ini, kita bisa memastikan bahwa banjir
tersebut adalah bencana yang bersifat lokal, bukannya global (seluruh dunia). Penggalianpenggalian
yang dilakukan pada daerah-daerah arkeologis yang diperkirakan sebagai lokasi
terjadinya banjir  yang nanti akan kita bahas berikutnya menunjukkan bahwa banjir tersebut
bukanlah sebuah peristiwa global yang mempengaruhi seluruh bumi, akan tetapi merupakan
sebuah bencana yang sangat luas yang mempengaruhi bagian tertentu dari wilayah
Mesopotamia.

Apakah Seluruh Binatang ikut Dinaikkan ke atas Perahu?

Para penfasir Bibel yakin bahwa Nabi Nuh memasukkan seluruh species binatang yang
ada di muka bumi ke atas Perahu dan binatang-binatang itu bisa selamat dari kepunahan karena
kebaikan Nabi Nuh itu. Menurut apa yang mereka yakini ini, setiap pasang dari tiap species
yang ada di muka bumi juga dibawa bersama ke atas perahu.

Mereka yang mempertahankan pernyataan itu dengan tanpa ragu harus menghadapi
kejanggalan-kejanggalan yang serius dalam berbagai hal. Pertanyaan tentang bagaimana
berbagai jenis binatang yang diangkut ke atas perahu itu diberi makan, bagaimana mereka
ditempatkan di dalam perahu itu (kandang-kandang untuk mereka), atau bagaimana mereka
dipisahkan satu dengan lainnya adalah pertanyaan-pertanyaan yang mustahil bisa terjawab.

Lagi pula, masih ada beberapa pertanyaan yang tersisa: bagaimana binatang-binatang yang
berasal dari berbagai benua (daratan) yang berbeda bisa dibawa bersamaan, berbagai mamalia
yang ada di kutub, kanguru dari Australia, atau bison yang Aneh dari Amerika?. Juga, masih
adalah berbagai pertanyaan lebih banyak lagi, seperti, bagaimana binatang yang sangat
membahayakan yang berbisa seperi berbagai jenis ular, kalajengking dan binatang-binatang
buas itu semua bisa ditangkap, serta bagaimana mereka bisa bertahan padahal dipisahkan dari
habitat alamiahnya untuk suatu waktu hingga banjir itu surut?.

Ini adalah berbagai pertanyaan yang dihadapi oleh Perjanjian Lama. Di dalam al-Qur’an,
tidak ada pernyataan yang mengindikasikan bahwa seluruh species binatang di muka bumi
dinaikkan ke atas perahu. Dan sebagaimana yang telah ditegaskan sebelumnya, banjir tersebut
terjadi dalam sebuah wilayah tertentu saja, sehingga, binatang yang dinaikkan perahu pun
hanyalah yang hidup di wilayah di mana umat Nabi Nuh itu tinggal.

Meski demikian, ini adalah bukti bahwa mustahil sekalipun hanya untuk
mengumpulkan seluruh jenis binatang yang hidup di wilayah tersebut. Sulit dipikirkan
Nabi Nuh beserta sejumlah kecil orang-orang yang beriman yang menyertainya (QS.
Hud: 40)

pergi menuju ke segala penjuru untuk mengumpulan masing-masing dua ekor dari
ratusan species binatang di sekitar mereka. Bahkan, lebih mustahil lagi bagi mereka untuk
mengumpulkan berbagai tipe serangga yang hidup di wilayah mereka, serta untuk memisahkan
antara yang jantan dan betina!. Ini alasan mengapa yang lebih memungkinkan adalah bahwa
yang dikumpulkan itu hanya binatang yang bisa dengan mudah ditangkap dan dipelihara, dan
karenanya, binatang tersebut adalah binatang ternak yang secara khusus berguna bagi manusia.

Nabi Nuh agaknya memasukkan ke atas perahu binatang binatang sejenis itu, yakni seperti,
sapi, biri-biri, kuda, unggas, unta dan sejenisnya, karena inilah binatang-binatang yang
dibutuhkan untuk penyangga kehidupan baru bagi di wilayah yang telah kehilangan sejumlah
besar prasarana hidup dikarenakan bencana banjir tersebut.

Di sini masalah penting terletak pada bahwa kebijaksanaan Ilahiah dalam perintah Allah
kepada Nabi Nuh untuk untuk mengumpulkan berbagai binatang terletak pada arahan untuk
menumpulkan binatang-binatang yang dibutuhkan untuk kehidupan baru setelah banjir berakhir
daripada untuk kepentingan mempertahankan genus berbagai binatang. Selama banjir itu
bersifat lokal, maka kepunahan berbagai jenis binatang tidak akan mungkin terjadi. Agaknya
ada kecenderungan bahwa pada masa setelah banjir, berbagai binatang dari wilayah-wilayah
lain bermigrasi ke tempat tersebut dan memadati daerah tersebut dengan cara kehidupan lama
yang pernah ada. Sehingga yang terpenting adalah bahwa kehidupan bisa dirintis kembali
begitu banjir berakhir, dan binatang-binatang yang dikumpulkan (dan diangkut ke atas perahu)
adalah dimaksudkan untuk tujuan perintisan kehidupan seperti itu.

Berapa Tinggikah Air Banjir Tersebut?

Perdebatan lain di seputar masalah banjir itu adalah, apakah banjir itu memancar dan
menggenang sebegitu tingginya sehingga menenggelamkan gunung?. Sebagaimana telah
diberitahukan, al-Qur’an menginformasikan kepada kita bahwa perahu Nabi Nuh itu terdampat
di suati tempat yang bernama al-Judi setelah banjir selesai. Kata-kata judi secara umum
merujuk pada lokasi gunung tertentu, sedangkan kata-kata itu memiliki arti tempat yang tinggi
atau bukit. Karenanya, hendaknya jangan dilupakan bahwa di dalam al-Qur’an , judi bisa
jadi tidak digunakan sebagai nama bagi gunung tertentu, akan tetapi untuk menunjukkan bahwa
perahu telah terdampar dan terhenti pada sebuah tempat yang tinggi. Di samping itu, makna
dari kata-kata judi yang disebutkan di atas mungkin juga memperlihatkan bahwa air bah itu
mencapai ketinggian tertentu, tetapi tidak mencapai ketinggian puncak gunung. Dengan kata
lain bisa dikatakan bahwa yang paling memungkinkan adalah bahwa banjir itu tidak
menenggelamkan seluruh bumi dan seluruh gunung sebagaimana digambarkan dalam
Perjanjian Lama, tetapi hanya menggenangi wilayah tertentu saja.

Lokasi Banjir Nuh

Daratan Mesopotamia diduga kuat sebagai lokasi di mana banjir masa Nabi Nuh terjadi.
Wilayah ini diketahui sebagai tempat bagi peradaban tertua dalam sejarah. Lagi pula, dengan
posisinya yang berada di antara sungai Tigris dan Eufrat, tempat ini sangat memungkinkan
untuk terjadinya sebuah banjir yang besar. Di antara fakor penyebab terjadinya banjir
kemungkinan adalah bahwa kedua sungai ini airnya meluap dan membanjiri wilayah tersebut.
Alasan kedua mengapa daerah tersebut diduga kuat sebagai tempat terjadinya banjir
adalah bukti-bukti historis. Dalam rekamana sejarah berbagai peradaban manusia yang pernah
menempati lokasi tersebut, banyak dokumen yang ditemukan telah merujuk pada pernah
terjadinya sebuah banjir, dan banjir itu dalam dokumen tersebut disebutkan terjadi dalam
sebuah pereode masa yang sama. Setelah menyaksikan pembinasaan kaum Nabi Nuh,
peradaban-peradaban tersebut agaknya merasa perlu untuk merekam dalam sejarah mereka,
bagaimana banjir itu terjadi, serta bagaimana juga akibat-akibat yang ditimbulkan oleh banjir
tersebut. Telah diketahui pula, bahwa mayoritas legenda-legenda yang menceritakan banjir
tersebut berasal dari Mesopotamia juga. Yang juga lebih penting bagi kita adalah temuantemuan
arkeologis. Temuan ini memperlihatkan bahwa sebuah banjir besar pernah terjadi di
wilayah ini. Sebagaimana yang akan kami bahas secara detail pada halaman-halaman
berikutnya, banjir ini telah menyebabkan tertundanya mata rantai perkembangan peradaban
untuk selama jangka waktu tertentu. Dalam penggalian-penggalian yang dilakukan, nampak
jejak-jejak dari bencana dahsyat tersingkap dari timbunan tanah.

Penggalian-penggalian yang dilakukan di wilayah Mesopotamia telah mengungkap,
bahwa berkali-kali dalam sejarah, wilayah ini menderita berbagai macam bencana sebagai
akibat dari berkali-kali banjir dan meluapnya Sungai Eufrat dan Tigris. Sebagai misal, pada
millenium kedua Sebelum Masehi (SM), pada masa Ibbi-sin, penguasa dari bangsa Ur yang
besar, yang berlokasi di sebelah selatan Mesopotamia, sebuah tahun tertentu ditandai dengan
sesudah terjadinya sebuah banjir yang telah melenyapkan garis batas antara surga-surga dan
bumi  . Di sekitar tahun 1700 Sebelum Masehi (SM), pada masa kekuasaan Hamurabi dari
Babilonia, sebuah tahun dikenang sebagai sebuah masa dimana terjadi di dalamnya insiden
hujan di kota Eshnunna yang disertai dengan banjir.

Pada abad ke 10 SM, pada masa pemerintahan Nabu-mukin-apal, sebuah banjir terjadi di
kota Babilon. Setelah masa kehidupan Isa (Jesus) pada abad ke 7, 8, 10, 11, dan 12, banjirbanjir
yang dinilai bersejarah (penting) terjadi dalam wilayah tersebut. Dalam abad ke 20,
kejadian yang sama terjadi pada tahun 1925, 1930, dan 1954. Jelaslah sudah, bahwa wilayah
ini telah menjadi obyek bagi terjadinya bencana banjir, dan sebagaimana ditunjukkan dalam al-
Qur’an, bahwa rupa-rupanya sebuah banjir yang massif telah menghancurkan dan
membinasakan sebuah komunitas manusia secara keseluruhan.
Bukti-Bukti Arkeologis tentang Banjir

Bukanlah suatu hal yang kebetulan bila masa sekarang ini kita sedang mengungkap jejakjejak
dari mayoritas komunitas manusia yang oleh al-Qur’an dikatakan telah dibinasakan.
Bukti-bukti arkeologis menyajikan fakta, bahwa semakin mendadak kehancuran sebuah
komunitas terjadi, semakin memungkinkan bagi kita untuk melacak jejak-jejaknya.
Dalam kasus apabila sebuah peradaban hancur secara tiba-tiba, yang ini bisa saja terjadi
karena bencana alam, perpindahan tempat (migrasi) yang mendadak, atau karena perang, jejakjejak
peradaban sering bisa lebih terpelihara. Rumah-rumah yang mereka huni, peralatanperalatan
yang mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari, tidak lama kemudian akan
terkubur di bawah bumi. Jadi, jejak-jejak peninggalan mereka itu bisa terpelihara dalam waktu
yang lama dan tidak tersentuh oleh manusia, dan itu semua merupakan bukti yang penting
tentang sejarah masa lampau bila diungkapkan pada saat sekarang.

Inilah masalah besar sehubungan dengan bukti tentang Banjir masa Nabi Nuh yang telah
diungkap pada saat ini. Walaupun peristiwa penghancuran kaum Bani Nuh itu telah terjadi
sekitar millenium ketiga sebelum Masehi (SM), banjir itu telah mengakhiri seluruh peradaban
untuk jangka waktu tertentu, dan kemudian, menyebabkan lahirnya lagi sebuah peradaban yang
baru di daerah tersebut. Jadi, bukti-bukti yang muncul tentang banjir ini telah terpelihara selama
ribuan tahun agar kita bisa mengambil pelajaran darinya.

Usaha-usaha penggalian telah dilakukan dalam rangka menginvestigasi peristiwa banjir
yang telah menenggelamkan daratan-daratan di wilayah Mesopotamia. Dalam penggalianpenggalian
yang dilakukan di wilayah tersebut, di empat kota utama ditemukan jejak-jejak yang
menunjukkan bahwa telah terjadi sebuah banjir yang besar. Kota-kota tersebut adalah kota-kota
penting di Mesopotamia; Ur, Erech, Kish, dan Shuruppak.

Penggalian-penggalian yang dilakukan di kota-kota ini telah mengungkap bahwa semua
dari empat kota ini telah dilanda sebuah banjir pada sekitar millenium ketiga Sebelum Masehi.
Pertama, mari kita lihat penggalian-penggalian yang dilakukan di Kota Ur.
Sisa-sisa tertua dari sebuah peradaban yang tersingkap dari pengga lian di kota Ur, yang
telah diganti namanya menjadi Tell al Muqayyar pada masa sekarang ini, menunjuk pada
suatu masa 7000 tahun SM. Sebagai sebuah situs yang pernah menjadi lokasi bagi peradabanperadaban tertua, kota Ur telah menjadi sebuah wilayah hunian di mana berbagai kebudayaan tampil silih berganti.

Temuan arkeologis dari kota Ur memperlihatkan bahwa di sinilah peradaban telah pernah
terputus setelah terjadinya sebuah banjir dahsyat, dan kemudian, peradaban-peradaban baru
tampil. R.H. Hall dari British Museum melakukan penggalian yang pertama di tempat ini.
Leonard Woolley yang melakukan penggalian meneruskan setelah Hall, yang juga menjadi
supervisor (pengawas/pembimbing) penggalian yang secara kolektif diorganisir oleh the British
Museum dan University of Pensilvania. Penggalian-penggalian yang dilakukan oleh Woolley,
yang telah memberikan pengaruh besar di seluruh dunia, berlangsung dari 1922 sampai 1934.
Penggalian yang dilakukan Sir Woolley mengambil lokasi di tengah-tengah padang pasir
antara Baghdad dan Teluk Persi. Pendiri pertama kota Ur adalah orang-orang yang datang dari
Mesopotamia Utara dan mereka menyebut diri mereka dengan Ubaidian. Pada awalnya,
penggalian itu dilakukan untuk menghimpun informasi berkenaan dengan orang-orang tersebut.
Penggalian yang dilakukan Woolley digambarkan oleh seorang arkeolog Jerman, Werner
Keller, sebagai berikut:

Kuburan Raja-Raja Ur- begitu ungkap Woolley dalam kegembiraan besar tatkala
menemukan, telah membubuhkan lubang kuburan bagi kejayaan Sumeria, yang kehebatan
kekuasaannya telah tersingkap saat skop/cangkul para arkeolog mengenai sebuah tanggul
sepanjang 50 kaki di sebelah selatan candi dan ditemukan sebuah deretan panjang dari
pekuburan yang sangat menarik. Kubah/kolong batu yang ditemukan benar-benar merupakan
peti-peti harta yang berharga, yang dipenuhi dengan piala -piala yang mahal, kendi-kendi dan
vas-vas yang dibentuk secara menakjubkan, barang becah belah terbuat dari perunggu,
kepingan-kepingan mutiara, lapis lazuli, dan perak yang mengelilingi tubuh-tubuh tersebut, yang telah terbentuk menjadi debu/abu. Barang-barang semacam kecapi dan lyre disandarkan di
dinding-dinding. Hampir hanya dalam sekali dia kemudian menulis dalam buku hariannya,
penemuan-penemuan dihasilkan yang telah memberikan ketegasan tentang kecurigaankecurigaan
kami. Tepat di bawah lantai dari salah satu lubang kubur para raja kami menemukan sebuah lapisan abu berbagai tablet tanah liat, yang tertutupi oleh huruf-huruf yang jauh lebih tua dibandingkan dengan prasasti di atas kuburan. Dengan mendasarkan pada sifat dari tulisan yang ada, tablet-tablet tersebut bisa diduga dibuat pada sekitar tahun 3000 SM. Berarti, itu dua atau tiga abad lebih awal dari lubang kuburan tersebut.

Terowongan/lubang itu ternyata masih bisa dirunut lebih dalam. Tingkatan yang baru,
dengan pecahan-pecahan kendi, pot dan mangkuk masih tetap nampak terjaga. Para ahli
(ilmuwan) memperhatikan bahwa barang-barang tembikar itu masih cukup mengejutkan karena
tetap tidak berubah. Benar-benar nampak seperti yang telah ditemukan di pekuburan para raja.
Karena itulah, nampaknya selama beberapa abad peradaban Sumeria tidak mengalami
perubahan yang radikal. Mereka tentulah, menurut kesimpulan yang bisa ditarik, telah
mencapai tingkat perkembangan yang tinggi yang menakjubkan pada awal peradaban mereka.
Setelah beberapa hari penggalian dilakukan, beberapa pekerja Woolley berteriak kepadanya, Kita telah sampai paga lapisan dasar (ground), dia kemudian turun sendiri menuju lantai lubang galian agar bisa puas menyaksikan. Semula, pikiran Woolley adalah bahwa “Ini adalah penggalian yang terakhir. Wujudnya adalah pasir, pasir murni yang hanya bias dikandung oleh air.
Mereka memutuskan untuk menggali lapisan tersebut dan membuat lubang lebih dalam
lagi. Semakin dala m, semakin dalam menuju dasar: tiga kaki, enam kaki -- masih penuh
lumpur. Tiba-tiba, pada kedalaman sepuluh kaki, lapisan lumpur terhenti tiba-tiba. Di bawah
deposit tanah liat ini sekitar sepuluh kaki tebalnya, mereka menemukan bukti-bukti baru dari
hunian manusia. Wujud dan kualitas dari tembikar telah jelas berubah. Di sini, barang-barang
itu adalah bikinan tangan. Besi belum juga ditemukan di sini. Peralatan primitif yang nampak
adalah peralatan yang terbuat dari tebangan batu api. Ini mesti terjadi pada masa Zaman Batu!.
Banjir. Itulah penjelasan yang paling mungkin bagi deposit tanah liat yang besar di
bawah bukit di kota Ur, yang secara cukup jelas telah memisahkan dua zaman kehidupan.
Samudera telah meninggalkan jejak-jejak yang tidak terpungkiri dalam bentuk sisa-sisa
organisme laut yang terlekat/tersimpan dalam lumpur.

Analisa dengan mikroskop mengungkapkan bahwa deposit tanah liat di depan bukit di
kota Ur telah terkumpul disebabkan oleh banjir yang begitu besar yang telah meludeskan
peradaban Sumeria kuno. Epik tentang Gilgamesh dan cerita tentang Nuh tersatukan dengan
lubang galian yang dalam di bawah gurun Mesopotamia.

Max Mallowan menghubungkan pikiran-pikiran Leonard Woolley , yang menyatakan
bahwa endapan massif yang besar itu terbentuk dala m satu waktu tertentu yang hanya bisa
terjadi dikarenakan bencana banjir yang sangat besar. Woolley juga menggambarkan tentang
permukaan banjir yang telah memisahkan kota di Sumeria, kota Ur dengan kota Al-Ubaid yang penduduknya biasa bekerja mengecat barang tembikar, sebagaimana yang masih tersisa dari
peristiwa banjir tersebut.

Ini semua menunjukkan bahwa kota Ur adalah salah satu dari berbagai daerah yang
terkena banjir. Werner Keller mengekspressikan arti penting dari penggalian yang telah
disebutkan di atas dengan menyatakan bahwa hasil dari sisa-sisa kota di bawah lapisan tanah
lumpur dalam penggalian arkeologis di Mesopotamia membuktikan bahwa dahulu kala pernah
terjadi banjir di tempat ini.

Kota lain yang masih menyimpan jejak-jejak dari banjir Nuh adalah kota Kish di
Sumeria, yang saat ini dikenal dengan nama Tall al-Uhaimer. Menurut sumber-sumber
Sumeria kuno, kota ini merupakan tempat kedudukan tahta dari dinasi ‘postdiluvian’ yang
pertama.

Kota Shurrupak di sebelah selatan Mesopotamia , yang saat ini diberi nama dengan Tall
Far’ah, demikian juga, menyimpan jejak-jejak yang masih terlihat dari peristiwa banjir
tersebut. Studi arkeologis yang dilakukan di kota ini dipimpin oleh Erich Schmidt dari the
University of Pensilvania antara tahun 1922-1930. Penggalian-penggalian yang dilakukan
mengungkapkan adanya tiga lapisan yang pernah dihuni oleh manusia dalam rentang waktu
sejak masa pra sejarah hingga dinasti Ur ketiga (2112-2004 SM). Temuan yang paling istimewa
adalah reruntuhan dari sebuah bangunan rumah-rumah yang bagus sepanjang tablet (belahanbelahan
batu/prasasti) tulisan-tulisan kuno berbentuk baji (cuneiform) dari simpanan administrasi dan daftar-daftar kata, mengindikasikan adanya sebuah masyarakat yang telah berkembang maju hingga akhir millenium keempat Sebelum Masehi.

Masalah terpenting adalah bahwa sebuah banjir besar telah bisa dipahami dengan jelas
terjadi di kota ini pada sekitar 2900-3000 SM. Menurut perhitungan yang dilakukan Mallowan,
4-5 meter di bawah tanah, Schmidt telah mencapai lapisan tanah kuning (yang dibentuk oleh
banjir) yang terbentuk dari sebuah campuran antara tanah liat dan pasir. Lapisan ini lebih dekat
ke dataran daripada profil tumulus dan bisa diamati seluruhnya di seputar tumulus. Schmidt
mendefinisikan bahwa lapisan ini terbentuk dari campuran tanah liat dan pasir, yang masih
tersisa sejak masa Kerajaan Kuno Cemdet Nasr, sebagai sebuah pasir yang masih dengan
keasliannya di dalam sungai dan ini diasosiasikan dengan Banjir Nuh.

Di dalam penggalian yang dilakukan di kota Shuruppak, sisa-sisa sebuah banjir bisa
ditemukan yang masih berhubungan dengan kurang lebih tahun 2900-3000 SM. Mungkin, kota
Shuruppak terkena imbas dari banjir sebebesar imbas yang diderita kota-kota lain.
Tempat (kota) yang terakhir yang terkena banjir adalah kota Erech hingga sebelah selatan
kota Shuruppak yang saat ini dikenal dengan nama Tall al-Warka. Di kota ini, sebagaimana
di kota-kota yang lainnya, lapisan sebuah banjir juga nampak. Lapisan ini merujuk pada masa
2900-3000 SM sebagaimana yang lain.

Sebagaimana diketahui dengan baik, sungai Eufrat dan Tigris memotong menyeberangi
Mesopotamia dari ujung satu ke ujung yang lain. Nampaknya bahwa selama masa itu, dua
sungai ini dan disertai banyak sumber mata air, besar maupun kecil, meluap, dan, dengan
bersatunya dengan air hujan, telah menyebabkan sebuah banjir yang dahsyat. Peristiwa itu
digambarkan dalam al-Qur’an:

Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah
(11). Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah air-air
itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan (12). (QS. Al-Qamar: 11-12).

Ketika faktor-faktor yang menyebabkan banjir itu dibahas satu persatu, nampaklah bahwa
kesemuanya itu merupakan fenomena yang sangat alami. Adapun yang menjadikan peristiwa
itu penuh mukjizat adalah karena kejadiannya pada saat yang bersamaan dengan peringatan
Nabi Nuh kepada kaumnya tentang akan datangnya bencana semacam itu sebelumnya.

Pengujian terhdap bukti yang didapat dari studi yang komplet mengungkapkan bahwa
daerah banjir membentang sekitar 160 km (lebar) dari timur sampai barat, dan 600 km
(panjang) dari utara sampai selatan. Ini menunjukkan bahwa banjir tersebut menutupi seluruh
daratan-daratan di Mesopotamia. Ketika kita membahas urut-urutan kota Ur, Erech, Shuruppak
dan Kish yang menyembulkan jejak-jejak banjir Nuh, kita melihat bahwa kota-kota ini berada
dalam satu garis sepanjang rute tersebut. Karena itulah, banjir tersebut pastilah telah mengenai
keempat kota ini dan daerah-daerah sekitarnya. Di samping itu, harus dicatat bahwa pada sekitar 3000 tahun BC, struktur geografis dari daratan Mesopotamia berbeda dengan kondisi yang ada sekarang. Pasa masa tersebut, posisi sungai Eufrat terletak lebih ke timur dibandingkan dengan posisi sungai tersebut saat ini; garis arus sungai ini ternyata dulunya sama dengan garis yang melewati menembus kota Ur, Erech, Shuruppak dan Kish. Dengan terbukanya “mata air di bumi dan di surga”, agaknya sungai Eufrat meluap dan mengalir tersebar sehingga merusak empat kota yang disebut di atas.

Agama dan Kebudayaan yang Menceritakan Banjir Nabi Nuh

Peristiwa Banjir Nuh tersebut disebarluaskan ke hampir semua manusia (kaum) lewat
lesan para Nabi yang menyampaikan Agama yang Benar, tetapi akhirnya cerita itu menjadi
legenda-legenda berbagai kaum-kaum itu, dan kisah itu mengalami penambahan-penambahan
dan juga pengurangan-pengurangan dalam periwayatannya.

Allah telah menyampaikan kisah tentang Banjir Nuh kepada manusia melalui para rasul
dan kitab-kitab yang Dia turunkan kepada berbagai masyarakat agar hal itu menjadi peringatan
atau permisalan. Dalam setiap masa teks atau kitab-kitab tersebut telah dirubah dari aslinya, dan
penuturan tentang banjir Nuh itu juga telah ditambah-tambahai dengan unsur-unsur yang mistis.
Hanyalah al-Qur’an lah sumber yang masih memiliki kesamaan yang mendasar dengan temuantemuan dan observasi empiris. Hal ini hanya tidak lain karena Allah menjaga al-Qur’an dari
perubahan, meski hanya sebuah perubahan kecil sekalipun, dan Dia tidak mengizinkan al-
Qur’an itu terkurangi. Menurut padangan al-Qur’an berikut ini Kami telah dengan tanpa
keraguan menurunkan risalah, dan Kami dengan pasti akan menjaganya (dari pengurangan)(QS.Al-Hijr: 9), al-Qur’an berada di bawah pengawasan khusus Allah.

Dalam bagian terakhir dari bab ini yang berkaitan dengan banjir, kita akan melihat,
bagaimana insiden banjir itu diilustrasikan meski telah terjadi manipulasi/pengurangan
dalam berbagai kebudayaan dan di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Banjir Nabi Nuh dalam Perjanjian Lama

Kitab yang sebenarnya diwahyukan kepada nabi Musa adalah Taurat. Hampir semua sisasisa
wahyu dan buku-buku yang berkaitan dengan Injil Pentateuch (lima buku pertama dari
Kitab perjanjian Lama), seiring dengan berjalannya waktu, telah lama kehilangan
hubungannya dengan wahyu yang asli. Bahkan, kemudian bagian yang paling meragukan
tersebut telah diubah oleh para rabi (pendeta) dari masyarakat Yahudi. Sama halnya dengan
wahyu-wahyu yang dikirimkan kepada nabi-nabi lain yang diutus kepada Bani Israel setelah
nabi Musa, juga mendapat perlakuan yang sama dan mengalami perubahan yang luar biasa.
Inilah sebab yang menjadikan kita untuk menyebut buku-buku itu sebagai Pentateuch yang
telah dirubah (Altered Pentateuch) dikarenakan telah kehilangan hubungannya dengan aslinya,
membawa kita untuk menganggapnya lebih hanya sebagai bikinan manusia semata yang
berupaya untuk mencatat sejarah suku bangsanya daripada menganggapnya sebagai sebuah
kitab suci. Tidaklah mengherankan jika ciri-ciri dari Pentateuch yang telah dirubah itu dan
berbagai kontradiksi yang terkandung didalamnya bisa dengan mudah terungkap dalam
pemaparannya terhadap cerita tentang nabi Nuh meskipun mempunyai berbagai kesaman dalam
sebagian yang diceritakan dengan al-Qur’an.

Menurut Perjanjian Lama, Tuhan memerintahkan kepada Nuh bahwa semua orang
kecual para pengikutnya akan dihancurkan karena bumi telah penuh dengan berbagai macam
tindak kekerasan. Dan akhirnya Tuhan memerintahkan mereka untuk membuat sebuah Perahu
dan menyebutkan secara detail bagaimana cara mengerjakannya. Tuhan juga mengatakan
kepadanya (Musa) untuk membawa keluarganya, tiga orang anaknya, istri-istri anaknya, dua
(sepasang) dari setiap mahkluk hidup dan berbagai persedian bahan pangan.

Tujuh hari kemudian, ketika waktu banjir telah tiba, semua sumber yang ada di dalam
tanah mendadak terbuka lebar, pintu-pintu surga terbuka dan sebuah banjir besar
menenggelamkan semuanya. Hal ini berlangsung selama empat puluh hari dan empat puluh
malam. Kapal yang dtumpangi Nuh beserta pengikutnya berlayar diatas air yang menutupi
semua pegunungan dan dataran tinggi. Mereka yang berada di dalam kapal bersama Nuh
diselamatkan dan mereka yang tidak ikut ke dalam kapal dan terbawa oleh air bah tersebut
ditenggelamkan hingga mati. Hujan berhenti setelah banjir terjadi, yang terjadi selama 40 hari
40 malam, dan airpun mulai surut 150 hari kemudian.

Setelah berada pada hari ke tujuh belas dari bulan ke tujuh, kapal tersebut berhenti di
gunung Ararat (Agri). Nuh memerintahkan seekor merpati untuk melihat apakah air telah
benar-benar surut atau tidak, dan ketika akhirnya merpati tersebut tidak kembali lagi, ia
menyadari bahwa air telah benar-benar surut. Tuhan memerintahkannya untuk keluar dari kapal
dan menyebar ke seluruh penjuru bumi.

Salah satu kontradiksi yang terdapat dalam kisah yang terdapat dalam perjanjian Lama
ini adalah; berdasarkan ringkasan ini, dalam versi tulisan yang berbau Yahudi, dikatakan
bahwa Tuhan memerintahkan kepda Nuh untuk membawaa tujuh dari binatang-binatang
tersebut, jantan dan betina, Ia (Tuhan) menyebut-Nya clean(halal) dan hanya pasanganpasangan
binaang-binaang tersebut Ia sebut unclean(haram). Hal ini bertentangan dengan
teks dibawah ini. Disamping itu dalam Perjanjian Lama, jangka waktu terjadinya banjir juga
berbeda. Menurut versi yang berbau Yahudi itu, peristiwa naiknya air akibat banjir terjadi
selama 40 hari, sedangkan berdasarkan pendapat orang-orang awam, dikatakan terjadinya
selama 150.

Sebagian dari Perjanjian Lama yang menceritakan tentang banjir Nuh mengatakan ;

Dan Tuhan berkata kepada Nuh, akhir dari semua jasad manusia adalah menghadap kepadaKu;
02_banjir_nabi_nuh Page 22 of 27
dan karena bumi telah penuh dengan kekerasan; maka lihatlah Aku akan menghancurkan
mereka bersama dengan bumi. Maka kamu buatlah perahu dari kayu gopher;..

..Dan, lihatlah meskipun Aku memberikan banjir yang membanjiri seluruh bumi untuk
menghancurkan semua manusia, dimana semua yang bernafas, dari bawah surga; (dan)setiap
yang ada dibumi akan mati. Namun bersamamu Aku akan menetapkan janjiKu; dan kamu akan
masuk ke dalam perahu, kau dan anakmu, dan istrimu, dan istri-istri anak-anak mu. Dan semua
mahkluk hidup, dua (sepasang) dari setiap mahkluk kamu bawa ke dalam perahu, untuk tetap
menjaga mereka hidup bersamamu; mereka haruslah jantan dan betina

demikianlah yang dilakukan Nuh; berdasarkan semua yang Tuhan perintahkan
kepadanya. (Genesis 6:13-22).
Dan perahupun berhenti pada bulan ke tujuh, pada hari ke tujuhbelas dari bulan
tersebut di atas gunung Ararat. (Genesis 8:4).
Setiap binatang yang halal kamu bawa sebanyak tujuh ke dalam perahu jantan dan
betinanya, dan biatang yang tidak halal kamu bawa sebanyak dua jantan dan betinanya,
unggas juga kamu ambil dari udara sebanyak tujuh, jantan dan betinanya, untuk
menjaga agar bebih tetap hidup diseluuh penjuru bumi (Genesia 7:2-3).
Dan Aku akn menepati janjiKu terhadapmu, dan semua orang-orang yang lain
akan ditenggelamkan oleh air banjir, dan banjir akan lebih banyak lagi yang akan
menghancurkan dunia (Genesis, 9:11).

Berdasarkan kepada Perjanjian Lama, berkenaan dengan keputusan yang menyatakan
bahwa semua mahkluk hidup yang ada di dunia akan mati dalam sebuah banjir yang
menggenagi seluruh permukaan bumi, maka semua orang dihukum, dan yang selamat hanyalah
mereka yang berlayar dengan perahu bersama Nuh.

Banjir Nuh dalam Perjanjian Baru

Perjanjian Baru yang kita miliki saat ini adalah bukan sebuah Kitab Suci dalam arti kata
yang sebenarnya. Terdiri dari perkataan dan perbuatan dari ‘Isa (jesus), Pernanjian Baru
dimulai dengan empat Gospels (ajaran) yang ditulis satu abad setelah kematian ‘Isa oleh
orang-orang yang belum pernah melihatnya atau berteman dengan Isa; mereka (para penulis) ini
bernama Matius, Markus, Lukas dan Johanes . Terdapat berbagai kontradiksi yang sangat
gamblang diantara keempat gospel (ajaran) ini. Khususnya Gospel of John (Johanes) yang
sangat memiliki banyak perbedaan dengan dari ketiga yang lain (Synoptic Gospel), meski
dalam beberapa tingkat tertentu memiliki kesamaan. Buku-buku lain dari Perjanjian Baru terdiri
dari surat-surat yang ditulis oleh Apostle (utusan/rasul) dan Saul dari Tarsus ( yang kemudian
disebut dengan Saint Paul) menyebutkan perbuataan setelah kematian Isa.
Namun demikian Perjanjian Baru yang terdapat saat ini bukan lagi merupakan sebuah
naskah suci namun lebih merupakan sebuah buku semi-sejarah semata.
Dalam Perjanjian Baru, banjir Nuh disebutkan secara singkat sebagai berikut; Nuh
diutus sebagai seorang pembawa pesan kepada sebuah masyarakat yang tidak patuh dan
tersesat, namun kaumnya tidak mau mengikutinya dn meneruskan penyimpangan mereka,
kemudian Allah menimpakan kepada mereka yang menolak keimanan dengan sebuah peristiwa
banjir dan menyelamatkan Nuh dan para pengikutnya dengan menempatkan mereka ke dalam
perahu. Beberapa bab dri perjanjian Baru yang berkaitan dengan hal ini adalah sebagai berikut;

Tetapi, pada masa Nabi Nuh, dan juga kedatangan seorang anak laki-laki. Dan
pada hari-hari di mana mereka sebelum datangnya banjir, mereka makan dan minum,
mereka menikah dan saling memberi dalam pernikahan itu, hingga datanglah suatu
waktu ketika Nuh masuk ke dalam perahu, dan mengertilah dia tidak lebih hingga
datangnya banjir, dan dia membawa mereka semua menjauh, demikian juga dengan
datangnya seorang anak lelaki itu. (Matius, 24:37-39).

Dan terpisah, bukan di bumi yang telah tua, tetapi selamatlah Nuh sebagai orang
yang ke delapan, seorang penyeru kesalehan, membawa dalam banjir ke atas dunia yang
tidak taat pada Tuhan. (Peter kedua,2: 5)

Dan sebagaimana pada hari-hari masa Nuh, dan seharusnya juga juga pada masa
seorang anak laki-laki. Mereka makan, minum, menikahi isteri, mereka saling diberi
dalam perkawinan, hingga datanglah suatu hari ketika Nuh memasuki perahu, dan
banjir datang, dan menghancurkan mereka semua. (Lukas, 17: 26-27).

Di saat mereka itu ingkar (tidak mentaati), ketika suatu masa Tuhan lama
menderita menunggu di masa Nuh, sembari perahu dipersiapkan, dalam jumlah
beberapa, delapan jiwa diselamatkan oleh air. (Peter pertama, 3:20).

Dikarenakan mereka mengabaikan, bahwa dengan kata Tuhan surga-surga
menjadi tua, dan bumi mempertahankan air dan berada di dalam air: Di mana bumi
kemudian, diluapi dengan banjir, dibinasakan. (Peter kedua,3:5-6).

Peristiwa Terjadinya Banjir dalam Kebudayaan Lain
Dalam Kebudayaan Sumeria

Tuhan/ Dewa yang bernama Enlil berkata kepada suatu kaum bahwa tuhan yang lain
ingin menghancurkan umat manusia, namun ia sendiri berkenan untuk meyelamatkan mereka.
Pahlawan dalam kisah ini adalah Ziusudra, raja yang taat kepada raja negeri Sippur. Tuhan
Enlil menyuruh Ziusudra apa yang harus dilakukan untuk bisa selamat dari banjir. Naskah yang
berkaitan dengan pembuatan kapal tersebut telah hilang, namun fakta bahwa bagian ini pernah
ada, diungkapkan dalam bagian yang menyebutkan bagaimana Ziusudra diselamatkan.
Berdasarkan versi bangsa Babylonia tentang banjir, bisa disimpulkan bahwa dalam versi bangsa
Sumeria pun, tentulah terdapat perincian yang lebih luas secara utuh tentang kejadian tersebut,
tentang sebab-sebab terjadinya banjir dan bagaimana perahu tersebut dibuat.

Dalam Kebudayaan Babilonia

Ut-Napishtim adalah persamaan tokoh bangsa Babilonia terhadap pahlawan dalam
peristiwa banjir dalam kisah bangsa Sumeria yaitu Ziusudra. Tokoh penting yang lain adalah
Gilgamesh. Menurut legenda, Gilgamesh memutuskan untuk mencari dan menemukan para
leluhurnya untuk mengupayakan rahasia kehidupan yang abadi. Ia melakukan sebuah
perjalanan yang menentang bahaya dan pebuh dengan kesulitan. Ia diperintahkan supaya
melakukan sebuah perjalan dimana ia harus melewati Gunung Mashu dan air kematian dan
sebuah perjalanan yang hanya dapat diselesaikan oleh seorang anak tuhan bernama Shamash.
Namun Gilgamesh tetap dengan gagah berani melawan semua bahaya selama perjalanan dan
akhirnya berhasil mencapai Ut-Napishtim.

Naskah ini dipotong/selesai pada titik dimana terjadi pertemuan antara Guilgamesh dan
Ut-Napishtim, dan ketika akhirnya menjadi jelas, Ut-Napishtim bekata kepada Gilgamesh
bahwa para tuhan hanya menyimpan rahsia kematiandan kehidupam untuk diri mereka
sendiri (yang mereka tidak akan memberikannya kepada manusia). Atas jawaban ini
Gilgamesh bertanya kepada Ut-Napishtim bagaimana ia dapat memperoleh keabadian; dan Ut-
Napishtim menceritakan kepadanya kisah tentang banjir sebagai jawaban atas pertanyaannya.
Banjir tersebut juga diceritakan dalam kisah duabelas meja (twelve tables) yang terkenal
dalam epik tentang Gilgamesh.

Ut-Napishtim memulainya dengan mengatakan bahwa kisah yang akan diceritakan
kepada Gilgamesh adalah merupakansesuatu yang rahasia, sebuah rahasia dari tuhan. Ia
berkata bahwa ia dari kora Shuruppak, kota tertua diantara kota-kota di daratan Akkad.

Berdasarkan ceritanya, tuhan Ea telah menyerukan kepaanya melalui tembok gubuknya dan
mengumumkan bahwa tuhan-tuhan telah memutuskan untuk menghancurkan semua benih
kehidupan dengan perantaraan sebuah banjir; namun alasan tentang keputusan mereka tidaklah
diterangkan dalam cerita banjir bangsa Babylonia sebagaimana telah diterangkan dalam kisah
banjir bangsa Sumeria . Ut-Napishtim berkata bahwa Ea telah menyuruhnya untuk membuat
sebuah perahu dimana ia harus membawa serta dan membwa benih-benih dari semua makhluk
hidup. Ea memberitahukan kepadanya tentang ukuran dan bentuk dari kapal tersebut,berdasarkan hal ini, lebar, panjng dan ketinggian dari kapal sama satu sama dengan yang lain.

Badai besar menjungkirbalikan semuanya dalam waktu enam hari dan enam malam. Pada hari
yang ke tujuh, badai mulai reda. Ut-Napishtim melihat bahwa diluar kapal, telah berubah
menjadi Lumpur yang lengket’. Dan sang kapalpun berhenti di gunung Nisir.

Menurut catatan bangsa Sumeria dan Babylonia, Xisuthros atau Khasisatra diselamatkan dari banjir oleh sebuah kapal dengan panjang 925 meter, bersama dengan keluarga dan teman-temannya dan bersama burung-burung dan berbagai jenis binatang. Hal ini dikatakan bahwa “air terbentang menuju ke surga, lautan menutupi pantai dan sungai meluap dari dasar sungai”. Dan kapalpun akhirnya berhenti di gunung Corydaean.

Menurut catatan bangsa Babilonia -Syria, Ubar Tutu atau Khasisatra diselamatkan bersama dengan keluarga dan pembantunya, umatnya dan binatang-binatang dalam sebuah kapal dengan lebar 600 cubits (ukuran panjang), tinggi dan lebarnya 60 cubit. Banjir tersebut berlangsung selama 6 hari dan 6 mala m. Ketika kapal tersebut menapai gunung Nizar, merpati yang dilepaskan kembali ke kapal sedangkan burung gagak yang sama-sama dilepaskan tidak kembali.

Berdasarkan beberapa catatan bangsa Sumeria, Asyiria dan Babylonia, Ut-Napishtim
bersama dengan keluarganya selamat dari banjir yang terjadi selama 6 hari dan 6 malam. Hal
ini dikatakan Pada hari ke tujuh Ut-napishtim melihat keluar. Ternyata sangatlah sepi. Orang
telah berubah menjadi Lumpur. Ketika kapal berhenti di gunung Nizar, Ut-napishtim
menerbangkan seekor burung merpati, seekor ggak dan seekor buurng pipit. Burung gagak
tinggal untuk memakan bangkai, sedangkan dua burung yang lain tidak kembali.

Dalam Kebudayaan India

Dalam epic dari India berjudul Shatapata Brahmana dan Mahabharata, seseorang yang disebut dengan Manu diselamatkan dari banjir bersama dengan Rishiz. Menurut legenda , seekor ikan yang ditangkap oleh Manu dan ikan tersebut diselamatkannya, tiba-tiba berubah menjadi besar dan mengatakan kepadanya untuk membuat sebuah perahu dan mengikatkan ke tanduknya. Ikan ini dilambangkan sebagai pengejawantahan dari dewa Wisnu. Ikan tersebut menuntun kapal mengarungi ombak yang besar dan membawanya ke utara ke gunung Hismavat.

Dalam Kebudayaan Wales

Menurut legenda Welsh (dari Wales, dari Celtic di Inggris), dikatakan bahwa Dwynwen
dan Dwfach selamat dari bencana yang besar dengan sebuah kapal. Ketika banjir yang amat
mengerikan yang terjadi dari meluapnya Llynllion yang disebut dengan Danau Gelombang.
Setelah selamat akhirnya mereka berdua mulai menghuni kembali daratan Inggris.

Dalam Kebudayaan Scandinavia

Legenda Nordic Edda melaporkan tentang Bergalmir dan istrinya selamat dari banjir
dengan sebuah kapal yang besar.

Dalam Kebudayaan Lithuania

Dalam legenda Lithuania, diceritakan bahwa beberapa pasang manusia dan binatang
diselamatkan dengan berlindung di puncak permukaan gunung yang tinggi. Ketika angin dan
banjir yang berlangsung sela dua hari dan dua belas malam tersebut mulai mencapai ketinggian
gunung yang hampir akan menenggelamkan yang ada diatas puncak gunung tersebut, sang
Pencipta melemparkan sebuah kulit kacang raksasa kepada mereka. Sehingga mereka yang ada
di gunung tersebut diselamatkan dari bencana dengan berlayar didalam kulit kacang raksasa ini.

Dalam Kebudayaan China

Sumber di bangsa China menghubungkan cerita ini dengan seseorang yang dipanngil
denangan nama Yao bersama dengan tujuh orang lain atau Fa li bersama dengan istri dan anakanaknya, diselamatkan dari bencana banjir dan gempa bumi dalam sebuah perahu layar. Disini
dikatakan dunia semuanya berada dalam kehancuran. Air menyembur dan menutupi semua tempat. Akhirnya, airpun surut.

Banjir Nuh dalam Mitologi Yunani

Dewa Zeus memutuskan untuk menghancurkan orang-orang yang telah menjadi semakin
bertindak sesat setiap saat, dengan sebuah banjir. Hanya Deucalion dan istrinya Pyrrha yang
diselamatkan dari banjir, karena ayah Deucalion sebelumnya telah menyarankan anaknya untuk
membuat sebuah kapal. Pasangan ini turun ke gunung Parnassis pada hari ke sembilan setelah
turun dari kapal.

Semua legenda ini mengindikasikan sebuah realitas sejarah yang konkret. Dalam sejarah
setiap masyarakat/kaum menerima pesan dan risalah, setiap insan menerima wahyu Suci,
sehinga banyak kaum yang telah belajar tentang Banjir. Sayangnya, sebagaimana kaum-kaum
yang berpaling dari inti wahyu Suci, peristiwa banjir besar itupun mengalami banyak perubahan
dan menjadi bermacam legenda dan mitos.

Satu-satunya sumber dimana kita dapat menemukan kisah sejati tentang Nuh dan kaum
yang menolaknya adalah di dalam Al Qur’an, yang merupakan satu-satunya sumber yang
belum (dan tidak akan) mengalami perubahan sebahai Wahyu suci.

Al Qur’an menyediakan bagi kita keterangan yang benar tidak hanya tentang banjir Nuh
namun juga tentang kaum dan peristiwa sejarah lainnya, dalam bab-bab berikut kita akan
melihat kembali kisah-kisah sejati ini.
READ MORE -> Banjir Nabi Nuh

cari artikel lain ?

Arsip Blog

"Semoga betah berada di blog yang sangat tidak sempurna ini ya teman .. dan terima kasih karena telah menyempatkan waktunya untuk berkunjung di blog ini .. "